Rabu, 20 Juli 2011

Manfaat dan Bahaya Lidah


     Sahabat Nabi , Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi bercerita,"Saya pernah mendatangi Nabi dan bertanya, "Ya Rasulallah, katakanlah kepadaku sebuah pernyataan dalam Islam yang saya tidak perlu menanyakan tentang itu kepada orang lain sesudahmu!"

Beliau menjawab,"Katakanlah,"Saya beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah!".

Saya tanyakan lagi,"Ya Rasulullah, apakah yang harus saya khawatirkan mengenai diriku?".

Beliau memegang lidahnya sendiri dan berkata, "ini". (HR. Turmudzi).


     Organ tubuh manusia yang paling mudah untuk bergerak adalah lidah dan dua bibir. Dia bergerak ketika makan dan berbicara. Terkadang dia tersenyum kadang mencibir cemberut, membayangkan suasana hati pemiliknya. Kadang menyerocos berkata-kata. Orang berkata, "memang lidah tak bertulang, tak terbataskan kata-kata. tinggi gunung seribu janji. lain di bibir lain di hati".

Ada lidah yang gemar mengobral janji tetapi tidak ditepati. Lidahlah yang bersepakat waktu tetapi tidak dilaksanakan sesuai kesepakatan, Allah berfirman,

     "Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu esok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan Ingatlah kepada Rabb-mu bila kamu lupa dan katakanlah, "Mudah-mudahan Rabb-ku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada itu". (Al Kahfi: 23-24).

     Karena janji adalah hutang, dia harus ditepati. Adapun ucapan "Insya Allah" dimaksudkan untuk reserve bila ternyata Allah menentukan lain, karena Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Seseorang jangan menjadikan ucapan ini sebagai alasan bagi sikap menyalahi janjinya. Islam sama sekali tidak membenarkan orang menyalahi janji dengan sengaja.

     Menurut Ibnul Qoyyim, pada lidah ada dua penyakit besar. seseorang bisa saja selamat dari satu tapi mungkin tidak selamat dari yang lain. Penyakit pertama adalah bicara dengan kebatilan, atau tanpa kontrol sebagaimana kita lihat pada kebanyakan orang...Penyakit kedua adalah mereka yang diam membisu melihat kemungkaran. tak mau melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar. keduanya merupakan perangkap dan tipu daya syaitan.

     Maka, seorang muslim hendaknya berbicara. tetapi yang diucapkan mestilah yang baik-baik. Diam itu emas, bila dari berbicari tanpa guna, kata-kata yang menyakitkan hati orang, atau yang merugikan akhirat. Rasulullah Shalallahu'alihi Wa sallam bersabda," Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berbicara yang baik atau dia diam" (HR. Turmudzi).

Wallahu'alam bis Showab.

(pengingat diri yang terkadang lupa mengontrol lidah)

Selasa, 05 Juli 2011

بارك الله لكما وبارك الله عليكما وجمع بينكما في خير

SYAIR RENUNGAN SINGKAT UNTUK SUAMI ISTERI



Untuk Suami

Pernikahan atau perkawinan,
Menyingkap tabir rahasia
Isteri yang kamu nikahi tidaklah semulia Khadijah,
tidaklah setaqwa A’isyah
Pun tidaklah setabah Fatimah
Isterimu hanyalah wanita akhir zaman
Yang punya cita-cita menjadi shalihah

Pernikahan atau perkawinan,
Mengajar kita kewajiban bersama
Isteri menjadi tanah, engkaulah langit penaungnya
Isteri kiasan ternak, engkau gembalanya
Isteri bak murid, engkaulah sang mursyid
Isteri bagai anak kecil, engkaulah tempatnya bermanja

Saat isteri menjadi madu, teguklah ia sepuasnya
Seketika isteri menjadi racun, engkaulah penawar bisanya
Seandainya isteri tulang yang bengkok
Berhati-hatilah meluruskannya

Pernikahan atau perkawinan,
Menginsyafkan kita perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah Ta’ala
Karena memiliki isteri tak sehebat mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Rasulullah, pun bukanlah
Sayyidina Ali Karramallahu wajhah
Cuma suami akhir zaman
Yang berusaha menjadi shalih



Untuk Isteri


Pernikahan atau perkawinan,
Membuka tabir rahasia
Suami yang menikahi kamu
Tidaklah semulia Muhammad
Tidaklah setaqwa Ibrahim,
ataupun segagah Musa
Apalagi setampan Yusuf
Suamimu hanyalah lelaki akhir zaman
Yang punya cita-cita membangun keturunan yang shalih


Pernikahan atau perkawinan,
Mengajari kita kewajiban bersama
Suami menjadi pelindung, kamu penghuninya
Suami adalah nakhoda, kamu navigatornya
Suami bak balita yang nakal, kamu penuntun kenakalannya
Saat suami menjadi raja, kamu nikmati
Anggur singgasananya
Seketika suami menjadi bisa, kamulah penawar obatnya
Seandainya suami masinis yang lancang
Sabarlah mengingatkannya

Pernikahan atau perkawinan,
Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar meniti sabar dan ridha Allah Ta’ala
Karena memiliki suami tak segagah mana,
Justru kamu akan tersentak dari alpa
Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna dalam menjaga,
pun bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara,
Cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi shalihah


Insya Allah ... Amin


(teruntuk temans yang baru dan yang akan melaksanakan setengah Dien :)