Sahabat Nabi , Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi bercerita,"Saya pernah mendatangi Nabi dan bertanya, "Ya Rasulallah, katakanlah kepadaku sebuah pernyataan dalam Islam yang saya tidak perlu menanyakan tentang itu kepada orang lain sesudahmu!"
Beliau menjawab,"Katakanlah,"Saya beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah!".
Saya tanyakan lagi,"Ya Rasulullah, apakah yang harus saya khawatirkan mengenai diriku?".
Beliau memegang lidahnya sendiri dan berkata, "ini". (HR. Turmudzi).
Organ tubuh manusia yang paling mudah untuk bergerak adalah lidah dan dua bibir. Dia bergerak ketika makan dan berbicara. Terkadang dia tersenyum kadang mencibir cemberut, membayangkan suasana hati pemiliknya. Kadang menyerocos berkata-kata. Orang berkata, "memang lidah tak bertulang, tak terbataskan kata-kata. tinggi gunung seribu janji. lain di bibir lain di hati".
Ada lidah yang gemar mengobral janji tetapi tidak ditepati. Lidahlah yang bersepakat waktu tetapi tidak dilaksanakan sesuai kesepakatan, Allah berfirman,
"Dan janganlah sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu esok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan Ingatlah kepada Rabb-mu bila kamu lupa dan katakanlah, "Mudah-mudahan Rabb-ku akan memberi petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada itu". (Al Kahfi: 23-24).
Karena janji adalah hutang, dia harus ditepati. Adapun ucapan "Insya Allah" dimaksudkan untuk reserve bila ternyata Allah menentukan lain, karena Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Seseorang jangan menjadikan ucapan ini sebagai alasan bagi sikap menyalahi janjinya. Islam sama sekali tidak membenarkan orang menyalahi janji dengan sengaja.
Menurut Ibnul Qoyyim, pada lidah ada dua penyakit besar. seseorang bisa saja selamat dari satu tapi mungkin tidak selamat dari yang lain. Penyakit pertama adalah bicara dengan kebatilan, atau tanpa kontrol sebagaimana kita lihat pada kebanyakan orang...Penyakit kedua adalah mereka yang diam membisu melihat kemungkaran. tak mau melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar. keduanya merupakan perangkap dan tipu daya syaitan.
Maka, seorang muslim hendaknya berbicara. tetapi yang diucapkan mestilah yang baik-baik. Diam itu emas, bila dari berbicari tanpa guna, kata-kata yang menyakitkan hati orang, atau yang merugikan akhirat. Rasulullah Shalallahu'alihi Wa sallam bersabda," Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berbicara yang baik atau dia diam" (HR. Turmudzi).
Wallahu'alam bis Showab.
(pengingat diri yang terkadang lupa mengontrol lidah)

