PERBEKALAN KEHIDUPAN
Kehidupan, tak ubahnya sebuah perjalanan. Ada asal, perlu perbekalan, ada terminal tempat untuk istirahat,dan punya tujuan. Ilustrasi seperti itu disampaikan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Rasul menggambarkan hidup di dunia,
كراكب استظل بشجرة ثم رحى و تركها
Seperti seorang musafir yang bernaung di bawah rindangnya pohon, setelah itu ia tinggalkan pohon tersebut. Dan, karenanya, Rasul memberi panduan agar hidup ini disikapi sebagai sesuatu yang sementara كن فى الدنيا كانك غريب او عا برسبيل
“Hiduplah engkau di dunia seperti orang asing, atau orang yang dalam perjalanan.” Orang asing, selalu hati-hati. Sebab, ia belum paham betul seluk beluk wilayah yang ia tempati. Hati-hati terhadap aral, waspada terhadap berbagai kemungkinan buruk. Sedangkan orang yang dalam perjalanan, akan berpikir bagaimana mencapai tujuan, bekal apa saja yang harus disertakan, dan yang pasti akan ada saat ia harus mengakhiri perjalanan itu…
Banyak perbekalan yang harus kita siapkan dalam menempuh perjalanan ini. Kita harus kenal siapa kawan dan siapa lawan. Kita harus tahu tabi’at perjalanan. Kita harus paham ke arah mana yang paling tepat mencapai tujuan. Kita juga harus mengerti sarana apa yang paling baik, yang membawa kita kepada tujuan perjalanan. Dan kita harus seksama menangkap rambu-rambu yang ada, agar tidak tersesat di tengah jalan. Aneh, bila ada yang menempuh perjalanan panjang tanpa bekal. Bila dalam perjalanan fisik yang bersifat duniawi saja, seseorang harus mencukupkan bekal yang dapat mengantarkannya pada tujuan, apalagi kita yang ingin menempuh perjalanan ukhrawi?
Seperti itulah,kita harus memiliki bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan panjang ini. Bekal yang menjadikan kita memiliki nafas panjang. Bekal yang dapat mengecilkan semua kesulitan dan kepenatan. Kita juga harus berbekal tekad yang tinggi untuk mencapai kebaikan.
و تزودوا فاءن خير الزاد التقوى
Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal itu adalah taqwa.
Ada tiga bekal yang harus kita miliki sepanjang perjalanan ini. Bekal paling pertama dan utama adalah keIKHLASan. Apapun amal yang kita lakukan, bila tidak niat karena Allah,maka tidak akan diterima. Selain itu, amal apapun yang tidak dilandasi oleh keikhlasan takkan pernah bertahan lama dan pasti terputus di tengah jalan.
Dalam perjalanan ini, seorang musafir harus memiliki ILMU. Dengan ilmu, seseorang bisa mengetahui dan mengantisipasi kesulitan, hingga ia tahu bagaimana melepaskan diri dari kesulitan itu, dan memahami isyarat atau rambu-rambu perjalanan. Ilmu yang dimaksud, adalah pengetahuan yang diwariskan dari mata air petunjuk para nabi.
Hanya dengan ilmu, kita bisa terhindar dari fitnah hidup ini. Ilmu-lah yang menjadikan hati menjadi layak dan kondusif menerima sinyal hidayah. Kemudian membimbing seseorang untuk melakukan kebaikan.
Ada satu bekal lagi yang harus kita miliki,setelah ikhlas dan ilmu, yakni BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG YANG SHALIH. Rasulullah saw sangat menganjurkan mencari pertemanan dengan orang-orang shalih. Setidaknya, menurut Rasulullah saw, duduk dan berdekatan dengan orang-orang shalih akan menularkan kebaikan. Seperti bersanding dengan penjual minyak wangi, minimal akan terimbas wangi. Sama dengan kebalikannya, siapa yang berdekatan dengan orang-orang yang tidak baik, maka ia bisa tertular oleh ketidakbaikkan itu. Seperti bersanding dengan tukang las. Bisa-bisa terbakar, atau terkena pekatnya asap.
Dengan bekal keikhlasan, ilmu, dan berteman dengan orang-orang yang shalih, semoga kita selamat dalam menempuh perjalanan ini. Akhirnya, selamat jalan, selamat berjuang. Semoga Allah mengumpulkan kita di surga kelak. Dalam naungan ridha dan kasih-Nya…amin
