Selasa, 12 Oktober 2010

PERBEKALAN KEHIDUPAN


PERBEKALAN KEHIDUPAN


          Kehidupan, tak  ubahnya sebuah perjalanan. Ada asal, perlu perbekalan, ada terminal tempat untuk istirahat,dan punya tujuan. Ilustrasi seperti itu disampaikan oleh Rasulullah saw kepada para sahabatnya. Rasul menggambarkan hidup di dunia,       
كراكب استظل بشجرة ثم رحى و تركها                                                                                   
Seperti seorang musafir yang bernaung di bawah rindangnya pohon, setelah itu ia tinggalkan pohon tersebut. Dan, karenanya, Rasul memberi panduan agar hidup ini disikapi sebagai sesuatu yang sementara كن فى الدنيا كانك غريب او عا برسبيل
“Hiduplah engkau di dunia seperti orang asing, atau orang yang dalam perjalanan.” Orang asing, selalu hati-hati. Sebab, ia belum paham betul seluk beluk wilayah yang ia tempati. Hati-hati terhadap aral, waspada terhadap berbagai kemungkinan buruk. Sedangkan orang yang dalam perjalanan, akan berpikir bagaimana mencapai tujuan, bekal apa saja yang harus disertakan, dan yang pasti akan ada saat ia harus mengakhiri perjalanan itu…

          Banyak perbekalan yang harus kita siapkan dalam menempuh perjalanan ini. Kita harus kenal siapa kawan dan siapa lawan. Kita harus tahu tabi’at perjalanan. Kita harus paham ke arah mana yang paling tepat mencapai tujuan. Kita juga harus mengerti sarana apa yang paling baik, yang membawa kita kepada tujuan perjalanan. Dan kita harus seksama menangkap rambu-rambu yang ada, agar tidak tersesat di tengah jalan. Aneh, bila ada yang menempuh perjalanan panjang tanpa bekal. Bila dalam perjalanan fisik yang bersifat duniawi saja, seseorang harus mencukupkan bekal yang dapat mengantarkannya pada tujuan, apalagi kita yang ingin menempuh perjalanan ukhrawi?

          Seperti itulah,kita harus memiliki bekal yang cukup untuk menempuh perjalanan panjang ini. Bekal yang menjadikan kita  memiliki nafas panjang. Bekal yang dapat mengecilkan semua kesulitan dan kepenatan. Kita juga harus berbekal tekad yang tinggi untuk mencapai kebaikan.
و تزودوا فاءن خير الزاد التقوى
Dan berbekallah kalian, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal itu adalah taqwa.

          Ada tiga bekal yang harus kita miliki sepanjang perjalanan ini. Bekal paling pertama dan utama adalah keIKHLASan. Apapun amal yang kita lakukan, bila tidak niat karena Allah,maka tidak akan diterima. Selain itu, amal apapun yang tidak dilandasi oleh keikhlasan takkan pernah bertahan lama dan pasti terputus di tengah jalan.

          Dalam perjalanan ini, seorang musafir harus memiliki ILMU. Dengan ilmu, seseorang bisa mengetahui dan mengantisipasi kesulitan, hingga ia tahu bagaimana melepaskan diri dari kesulitan itu, dan memahami isyarat atau rambu-rambu perjalanan. Ilmu yang dimaksud, adalah pengetahuan yang diwariskan dari mata air petunjuk para nabi.
          Hanya dengan ilmu, kita bisa terhindar dari fitnah hidup ini. Ilmu-lah yang menjadikan hati menjadi layak dan kondusif menerima sinyal hidayah. Kemudian membimbing seseorang untuk melakukan kebaikan.

          Ada satu bekal lagi yang harus kita miliki,setelah ikhlas dan ilmu, yakni BERTEMAN DENGAN ORANG-ORANG YANG SHALIH. Rasulullah saw sangat menganjurkan mencari pertemanan dengan orang-orang shalih. Setidaknya, menurut Rasulullah saw, duduk dan berdekatan dengan orang-orang shalih akan menularkan kebaikan. Seperti bersanding dengan penjual minyak wangi, minimal akan terimbas wangi. Sama dengan kebalikannya, siapa yang berdekatan dengan orang-orang yang tidak baik, maka ia bisa tertular oleh ketidakbaikkan itu. Seperti bersanding dengan tukang las. Bisa-bisa terbakar, atau terkena pekatnya asap.

Dengan bekal keikhlasan, ilmu, dan berteman dengan orang-orang yang shalih, semoga kita selamat dalam menempuh perjalanan ini. Akhirnya, selamat jalan, selamat berjuang. Semoga Allah mengumpulkan kita di surga kelak. Dalam naungan ridha dan kasih-Nya…amin

Sabtu, 02 Oktober 2010

Mendapatkan Cinta ALLAH


MENDAPATKAN CINTA ALLAH

Abu Hurairah ra.berkata, Rasulullah saw. Bersabda, Allah swt berfirman, Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. HambaKu tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya,Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang ia gunakan untuk menggenggam dan menjadi kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Ku-beri,dan jika ia memohon perlindungan-Ku, pasti Kulindungi. “ (HR. Bukhari)

          Siapapun yang menyakiti seorang mukmin, baik jiwa, harta, ataupun kehormatannya, maka Allah menyatakan perang kepada orang tersebut. Ketika Allah menyatakan perang kepada seseorang, berarti Allah pasti menghancurkannya. Kadang Allah menunda azab-Nya, tapi bukan berarti melupakan kesalahan orang tersebut. Kadang Allah membiarkan orang zalim berbuat aniaya dimuka bumi untuk beberapa saat. Setelah itu Allah menimpakan kepadanya azab yang sangat pedih.
          Umar ra. Berkata,” Amalan yang paling afdhal adalah melakukan apa-apa yang telah diwajibkan Allah, meninggalkan perkara-perkara yang telah diharamkan Allah dengan niat yang ikhlas.”
          Allah swt, mewajibkan hamba-Nya untuk meninggalkan maksiat. Allah juga telah menjelaskan bahwa siapapun yang melanggar batasan-batasan-Nya dan melakukan kemaksiatan, maka ia layak mendapat siksa yang teramat pedih, baik di dunia maupun di akhirat.

          Mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan sunah harus didahului dengan menunaikan semua kewajiban; shalat, puasa, zakat, haji (jika telah mampu),dan kewajiban lainnya. Disamping itu juga menahan diri dari semua perkara yang makruh. Inilah yang layak mendapatkan MAHABBAH (kecintaan) Allah swt. Barangsiapa yang dicintai Allah swt, maka Allah akan memberikan karunia untuk selalu mentaati-Nya. Dengan demikian ia layak dekat dengan Allah swt. Orang-orang seperti inilah yang disinyalir dalam sebuah ayat,
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya,bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. “ (QS Al-Maidah: 54)

          Ketika hati telah dipenuhi oleh kebesaran Allah, maka apapun selain Allah akan tersingkir dari hati tersebut. Bahkan hawa nafsunya pun lenyap dan tidak ada sedikitpun keinginan, kecuali apa-apa yang diinginkan Allah. Dalam kondisi seperti inilah, seseorang tidak akan berucap kecuali dalam rangka zikir kepada Allah, tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya. Jika ia berbicara, maka berbicara karena Allah. Jika ia mendengar, maka mendengar karena Allah. Jika ia melihat, maka ia melihat karena Allah.
Dalam hadist shahih juga dijelaskan bahwa Rasulullah saw berdo’a :
Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya,pada mataku,pada pendengaranku…”