MENDAPATKAN CINTA ALLAH
Abu Hurairah ra.berkata, Rasulullah saw. Bersabda, Allah swt berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekati-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada apa yang telah Aku wajibkan. HambaKu tidak henti-hentinya mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya,Aku menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang ia gunakan untuk menggenggam dan menjadi kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, pasti Ku-beri,dan jika ia memohon perlindungan-Ku, pasti Kulindungi. “ (HR. Bukhari)
Siapapun yang menyakiti seorang mukmin, baik jiwa, harta, ataupun kehormatannya, maka Allah menyatakan perang kepada orang tersebut. Ketika Allah menyatakan perang kepada seseorang, berarti Allah pasti menghancurkannya. Kadang Allah menunda azab-Nya, tapi bukan berarti melupakan kesalahan orang tersebut. Kadang Allah membiarkan orang zalim berbuat aniaya dimuka bumi untuk beberapa saat. Setelah itu Allah menimpakan kepadanya azab yang sangat pedih.
Umar ra. Berkata,” Amalan yang paling afdhal adalah melakukan apa-apa yang telah diwajibkan Allah, meninggalkan perkara-perkara yang telah diharamkan Allah dengan niat yang ikhlas.”
Allah swt, mewajibkan hamba-Nya untuk meninggalkan maksiat. Allah juga telah menjelaskan bahwa siapapun yang melanggar batasan-batasan-Nya dan melakukan kemaksiatan, maka ia layak mendapat siksa yang teramat pedih, baik di dunia maupun di akhirat.
Mendekatkan diri kepada Allah melalui amalan sunah harus didahului dengan menunaikan semua kewajiban; shalat, puasa, zakat, haji (jika telah mampu),dan kewajiban lainnya. Disamping itu juga menahan diri dari semua perkara yang makruh. Inilah yang layak mendapatkan MAHABBAH (kecintaan) Allah swt. Barangsiapa yang dicintai Allah swt, maka Allah akan memberikan karunia untuk selalu mentaati-Nya. Dengan demikian ia layak dekat dengan Allah swt. Orang-orang seperti inilah yang disinyalir dalam sebuah ayat,
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya,bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, bersikap keras terhadap orang-orang kafir, berjihad di jalan Allah, dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. “ (QS Al-Maidah: 54)
Ketika hati telah dipenuhi oleh kebesaran Allah, maka apapun selain Allah akan tersingkir dari hati tersebut. Bahkan hawa nafsunya pun lenyap dan tidak ada sedikitpun keinginan, kecuali apa-apa yang diinginkan Allah. Dalam kondisi seperti inilah, seseorang tidak akan berucap kecuali dalam rangka zikir kepada Allah, tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya. Jika ia berbicara, maka berbicara karena Allah. Jika ia mendengar, maka mendengar karena Allah. Jika ia melihat, maka ia melihat karena Allah.
Dalam hadist shahih juga dijelaskan bahwa Rasulullah saw berdo’a :
“ Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya,pada mataku,pada pendengaranku…”
suara hati memberikan warna yang tiada membisikkan kekeliruan, karena padan dasarnya apa yang ia katakan adalah sesungguhnya berasal dari Sang Maha Pemilik jagat raya. SUBHANALLAH
BalasHapus